Senin, 07 September 2009

Laskar Pelangi (Film)

Laskar Pelangi (film)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sutradara : Riri Riza

Produser : Mira Lesmana

Penulis : Salman Aristo, Riri Riza, Mira Lesmana

Musik oleh : Titi Syuman, Aksan Syuman

Distributor Miles Films dan Mizan Production

Rilis 25 September 2008

Durasi 125 menit
Bahasa Bahasa Indonesia

Anggaran Rp 8 Milyar
Laskar Pelangi (2008) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza yang dirilis pada 25 September 2008, pada saat libur Lebaran. Film Laskar Pelangi merupakan karya adaptasi dari buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo yang juga menulis naskah film Ayat-Ayat Cinta dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Hingga Maret 2009, Laskar Pelangi telah ditonton oleh 4,6 juta orang.[1]
Sang Pemimpi merupakan film kedua yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata. Mira sendiri tak berani memasang target bahwa film ini harus melampaui prestasi yang telah diraih film Laskar Pelangi, yang telah ditonton oleh 4,6 juta orang. "Kita enggak berani memasang target, karena penonton kita memang sulit ditebak. Tapi, tetap kita akan mencoba berbuat yang terbaik," ujarnya. (EH)
Untuk mencari pemeran tokoh-tokoh anggota Laskar Pelangi, Riri Riza melakukan casting di daerah Belitung dengan menggunakan pemeran-pemeran lokal dalam pembuatan film. Film ini juga diambil di lokasi yang sama, Pulau Belitung. Film ini memadukan 12 aktor Indonesia yang dikenal dengan kemampuan akting mereka dengan 12 anak-anak Belitung asli yang bertalenta akting.

Pemeran dan tokoh
Cut Mini Theo : Ibu Muslimah
Ikranegara : Pak Harfan
Zulfanny : Ikal
Ferdian : Lintang
Verrys Yamarno : Mahar
Slamet Rahardjo : Pak Zulkarnaen
Tora Sudiro : Pak Mahmud
Lukman Sardi : Ikal dewasa
Ario Bayu : Lintang dewasa
Mathias Muchus : Bapak Ikal
Rieke Diah Pitaloka : Ibu Ikal
Teuku Rifnu Wikana : Pak Bakri
Alex Komang : Bapak Lintang
Jajang C Noer : Istri Pak Harfan
Robby Tumewu : A Miauw (Ayah A Ling)
Yogi Nugraha : Kucai
M. Syukur Ramadan : Syahdan
Suhendri : A Kiong
Febriansyah : Borek
Suharyadi Syah Ramadhan : Trapani
Jeffry Yanuar : Harun
Dewi Ratih Ayu Safitri : Sahara
Marcella El Jolia Kondo : Flo
Levina : A Ling
READ MORE - Laskar Pelangi (Film) >

Novel Laskar Pelangi

Laskar Pelangi
Dari wikipedia Indonesia

Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan. Mereka adalah:

  1. Ikal
  2. Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
  3. Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
  4. Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
  5. A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
  6. Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
  7. Kucai; Mukharam Kucai Khairani
  8. Borek aka Samson
  9. Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
  10. Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan

Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Pada bagian-bagian akhir cerita, anggota Laskar Pelangi bertambah satu anak perempuan yang bernama Flo, seorang murid pindahan. Keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik.

Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku berikutnya adalah Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Buku ini tercatat sebagai buku sastra Indonesia terlaris sepanjang sejarah.


READ MORE - Novel Laskar Pelangi >

Andrea Hirata


Andrea Hirata




Andrea Hirata Seman Said Harun (lahir 24 Oktober) adalah seorang penulis Indonesia yang berasal dari pulau Belitong, propinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah novel Laskar Pelangi yang merupakan buku pertama dari tetralogi novelnya, yaitu :

  1. Laskar Pelangi
  2. Sang Pemimpi
  3. Edensor
  4. Maryamah Karpov

Laskar Pelangi termasuk novel yang ada di jajaran best seller untuk tahun 2006 - 2007.

Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi, astronomi--dan tentu saja sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya.

Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom.

Ia adalah Ikal dalam buku Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Kecintaannya pada Pulau Belitung atau Belitong, bangsa pujangga menebalkan tekadnya untuk tetap eksis di dunia perbukuan. Kini pria berusia 33 tahun tersebut, tengah sibuk menulis dua novel, yang merupakan tetralogi dari dua novel sebelumnya.

==============================

Namanya melambung lewat buku perdananya, Laskar Pelangi. Andrea Hirata Seman, demikian nama pria yang meraih gelar sarjana ekonominya dari Universitas Indonesia dan S2 dari Sheffield Hallam University, Inggris ini, tidak pernah menduga akan menjadi terkenal dan menjadi pembicaraan orang terutama di komunitas perbukuan. Padahal, menurut Andrea, ia menulis buku itu hanya sekedar mencurahkan isi hatinya tentang perjuangan gurunya semasa ia bersekolah di SD Muhammadiyah, Belitong Timur, Bangka Belitung.

Menurut Pegawai Telkom yang tinggal di Bandung ini, menulis merupakan dunia baru bagi. Karena itulah ia tak menyangka novel Laskar Pelangi yang ditulisnya dalam waktu 3 minggu, disukai banyak orang dan menjadi “best seller”. “Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis Laskar Pelangi, namun tidak pernah terwujud. Saat ada tsunami di Aceh dan saya berangkat kesana sebagai relawan, hati saya menangis melihat banyak sekolah yang hancur. Saya jadi teringat perjuangan bapak ibu guru saya. Begitu pulang, saya mulai menulis novel itu”.
Mengaku tidak memiliki latar belakang sastra, namun Andrea terbiasa mendengarkan cerita sejarah dan cerita klasik Melayu Belitung, dari para orang-orang tua di kampungnya. Sehingga tak heran, dalam menulis Laskar Pelangi, Andrea memiliki gaya penuturan yang kuat, filmis dan cerdas.

“Saat menulis yang terpatri diotak saya adalah mengeluarkan semua yang ada dalam pikiran. Sebagai tempat curahan hati, saya pun menulis. Ternyata menulis itu mengasyikan dan membuat kita lupa waktu. Akhirnya, seperti sudah menjadi ritual, seusai pulang kantor, saya langsung menulis. Saat menulis saya tak mau tahu apakah tulisan saya itu bagus atau jelek, apakah tulisan saya itu sesuai dengan komposisi, yang penting adalah tulis, tulis dan tulis !,” papar pria yang murah senyum ini.

Ditengah euforia novel bertema chiklit, teenlit, dan metropop, kehadiran Andrea Hirata bagaikan oase ditanah kering. Novel-novel Andrea sangat inspiratif dan mampu memberi kekuatan. Bahkan novel anak kelima dari pasangan Seman Said Harun Hirata dan Masturah ini, mampu menggerakkan hati para pakar pendidikan untuk memperbaiki sistem pendidikan. Dan kabarnya, SD Muhammadiyah, tempat Andrea bersekolah dulu, menjadi terkenal di Belitong dan mendapat perhatian dari pemda setempat.

“Novel yang saya tulis merupakan memoar tentang masa kecil saya, yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Karena itu, saya sangat berterima kasih dapat bersekolah di sekolah miskin dan memperoleh persahabatan yang indah dari teman-teman saya. Tak lupa, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua guru saya, yang tak pernah mengharapkan rasa terima kasih kecuali melihat siswanya menjadi orang yang berberhasil”, jelas Andrea yang memberikan royalti novelnya kepada perpustakaan sekolah miskin. (*)

READ MORE - Andrea Hirata >

Kamis, 03 September 2009

BU KASUR


BU KASUR

Posted by haniyah, Jakarta, 04/09/09, dari Ensiklopedi Tokoh Indonesia



Siapa tak kenal nama Bu Kasur. Pengarang lagu anak-anak yang legendaris dan tokoh pendidikan anak. Ibu yang bernama asli Sandiah ini meninggal dunia dalam usia 76 tahun hari Selasa (22/10/02) sekitar pukul 16.00 di Rumah Sakit (RS) Cikini Jakarta, meninggalkan lima anak dan 12 cucu. Namun, nama dan karyanya tepat hidup dan sudah menjadi sebuah legenda dalam dunia pendidikan anak. Sandiah mulai dikenal sebagai Ibu Kasur setelah mengasuh Taman Putra dan Taman Pemuda di Jakarta bersama suaminya, Pak Kasur. Mereka menikah ketika mengungsi di Jogjakarta pada 29 Juli 1946. Panggilan Kasur berasal dari kata Kak Sur, sebutan akrab Pak Kasur yang bernama asli Suryono. Ibu Kasur tamatan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di akhir tahun 1930-an. Setelah Pak Kasur meninggal, lembaga pendidikan anak itu berubah menjadi TK Mini Pak Kasur tahun 1968 yang kini mempunyai lima cabang di kawasan Jabotabek, yaitu di Cikini, Cipinang, dan Pasar Minggu (ketiganya di Jakarta), serta di Kemang (Bekasi), dan Banjar Wijaya (Tangerang). Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka, Jalan Cikini V, Jakarta Pusat. Rumah yang didiami Ibu Kasur tersebut sekaligus menjadi Taman Kanak-kanak (TK) Mini Pak Kasur yang dikelola almarhumah sejak tahun 1968 bersama Pak Kasur-yang meninggal pada tahun 1992. Dikebumikan di Kaliori, Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu 23/10/02. Almarhumah mengidap penyakit gula dan darah tinggi. Sampai menjelang akhir hayat, Ibu Kasur selalu ingin mendidik anak-anak. Meski belakangan tidak lagi langsung mengajar, namun masih selalu secara rutin mengunjungi TK Mini Pak Kasur. Ia selalu akrab dengan anak-anak. Selalu mengajak tos kepada anak-anak untuk memberi salam. Kamis sepekan sebelum meninggal, Ibu Kasur masih menemani anak-anak dari lima cabang TK Mini Pak Kasur bertamasya ke Taman Safari, Cisarua, Jawa Barat. Ia masih tampak berseri-seri mengikuti acara dan sempat berfoto bersama, meski harus duduk di kursi roda. Ia terlihat gembira dengan wajah cerah. Sama sekali tidak terlihat lelah. Besoknya, Jumat siang, masih mengikuti acara presentasi produk obat dengan tema "Sehat di Hari Tua" di Hotel Ambhara Jakarta. Minggu malam, juga masih menghadiri perjamuan perkawinan Guruh Soekarnoputra-Sabina. Sebagian besar hidup tokoh pendidikan anak kelahiran Jakarta 16 Januari 1926 ini tercurah pada anak-anak. Selain mencipta lagu dan tampil di berbagai panggung acara televisi dan siaran radio, ia juga mengelola lima Taman Kanak-kanak "Mini" Pak Kasur yang berlokasi di kawasan Cikini (sekaligus rumah tinggal Bu Kasur), Cipinang Indah, Pasarminggu, Kemang Pratama di Jakarta, dan Banjar Tangerang. Sudah banyak alumninya yang sudah menjadi orang besar. Diantaranya Presiden Megawati, Guruh dan Hayono Isman (mantan Menpora) serta Ateng (pelawak). Juga hampir seluruh cucu bahkan cicit H.M. Soeharto, mantan presiden, sekolah di TK Mini Pak Kasur. TK Mini berdiri sejak 1965 setelah Pak Kasur bersama keluarganya pindah ke Jakarta dari Bandung. Pada 1968 Pak Kasur purnakarya dari Depdikbud dalam kapasitasnya sebagai anggota Badan Sensor Film (BSF), Semula TK itu berada di rumahnya di Jln. H. Agus Salim dengan Taman Kanak-kanak, Taman Putera, dan Taman Pemuda. Namun, Taman Putera dan Taman Pemuda tidak dikembangkan, bahkan ditutup. Untuk menampung anak-anak dari berbagai kelompok umur, TK Mini dibagi dalam tiga jenjang, yaitu "Parkit" untuk anak usia tiga tahun, "Kutilang" untuk anak empat tahun, dan "Cendrawasih" untuk anak lima tahun. Bu Kasur tidak menganal kata bosan berkecimpung dalam dunia pendidikan dasar anak-anak. Menurutnya, ada kenikmatan tersendiri ketika mengamati bagaimana anak-anak itu berkembang dari hari ke hari. Kelucuan, kepolosan anak-anak membuatnya lebih 'hidup'. Tidak jarang Bu Kasur mendapatkan persepsi keliru dari orang tua murid tentang cara dia mengajar. Suatu ketika, di lantai kelas ia menebarkan permen dengan perintah agar anak-anak memunguti permen itu sebanyak-banyaknya. Anak-anak pun kontan berebut. "Tahu-tahu ada ibu yang menunggui anaknya sekolah nyeletuk, 'Jangan ikut rebutan permen itu, nanti pulang sekolah ibu belikan coklat.' "Waduh! Lalu saya jelaskan pada si ibu bahwa apa yang saya lakukan itu untuk melakukan observasi, dan hasilnya nanti akan saya pakai sebagai bahan untuk mengembangkan sifat-sifat positif anak. Ketika anak-anak mendapat perintah untuk mengumpulkan permen sebanyak-banyaknya, ada yang mengambil satu-dua, balik lagi, ambil lagi. Tapi ada yang kerjanya efisien dengan meraup sebanyak-banyaknya, lalu ditaruh di ujung kemejanya, baru diletakkan di meja saya. Dari situlah saya melakukan observasi," terang Bu Kasur. Ia juga mengatakan, sistem belajar sambil bermain bisa mendeteksi secara dini kalau ada kelainan kejiwaan seperti fobi ketinggian, fobi lingkungan, atau kelainan buta warna pada anak. Bahasa Inggris juga diajarkan di sekolah TK Mini. Namun, itu sekadar pengenalan sifatnya. "Hanya seminggu sekali dalam satu jam. Tujuannya agar anak terbiasa mendengar bahasa yang lain dari bahasa ibunya. Biasanya diajarkan lewat lagu. Kalau lagunya hafal, lama-lama artinya juga. Lagu-lagu Pak Kasur pun tetap dipakai, karena lagu-lagu Bapak berpengetahuan," kata Bu Kasur. Pada tahun 1950-an, bersama Pak Kasur, almarhumah mengasuh siaran anak-anak di RRI Jakarta. Ketika TVRI berdiri pada tahun 1962, Ibu Kasur mengasuh acara serupa, yaitu Arena Anak-anak dan Mengenal Tanah Airku. Pada awal tahun 1970-an, Ibu Kasur dikenal sebagai pengasuh acara Taman Indria di TVRI. Ketika televisi swasta muncul, almarhumah juga hadir di acara Hip Hip Ceria di RCTI. Seperti halnya Pak Kasur, Ibu Kasur juga dikenal sebagai pencipta lagu. Di antara lagu ciptaan almarhumah yang terkenal sampai sekarang adalah Kucingku, Bertepuk Tangan, dan Main Sembunyi. Sekadar mengingatkan, inilah lirik awal lagu Main Sembunyi : ... Siapa itu di belakang pintu/ sedang sembunyi/ perutnya gendut, hidungnya mancung/ Tentu si Honi. Belakangan, dalam kaset lagu anak-anak dari Ibu Kasur, nama Honi berubah menjadi Dodi. Dan, rupanya nama dalam lagu itu bisa berubah sesuai dengan situasi. Asal tahu saja, nama Honi diambil dari murid Ibu Kasur yang kini berprofesi sebagai dokter di Jakarta. Tak seberapa banyak memang karya lagu ciptaan Bu Kasur dibandingkan dengan karya-karya suaminya yang mencapai sekitar 140 lagu. Apalagi di usianya yang sudah kepala tujuh (lahir 16 Januari 1926 di Jakarta), ia nyaris tidak lagi memproduksi lagu. Untuk ukuran wanita seusianya, Bu Kasur masih tergolong cukup energik; menerima tetamunya yang hampir tiap hari mengalir ke rumahnya, terutama orang tua murid; masih giat mengikuti pelbagai acara (seperti berdarmawisata) yang diselenggarakan oleh sejumlah Taman Kanak-kanak di bawah Yayasan Setia Balita yang dipimpinnya. Ia juga menjadi pembicara seminar di berbagai tempat, atau menjadi juri di pelbagai lomba kreativitas maupun menyanyi lagu anak-anak. Senyumnya yang khas mengembang saat pikirannya menerawang ke masa hampir empat puluh tahun lalu ketika wanita itu masih membawakan acara Taman Indria, Arena Anak-anak, dan Mengenal Tanah Air di TVRI. Bu Kasur memang dikenal karena mengasuh sejumlah acara anak-anak di televisi dan juga radio. Dunia anak-anak sepertinya tak bisa lepas dari kehidupan Bu Kasur dan juga suaminya. Dengan penuh kesabaran dan ketulusan, pasangan suami-istri itu membimbing anak-anak belajar sambil bermain. Juga bernyanyi! Belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Itulah kata kunci yang melandasi pola pikir dan pola tindak yang senantiasa dihayati dan dilaksanakan hingga sekarang dalam mengelola sekolah Taman Kanak-kanaknya.
READ MORE - BU KASUR >

Selasa, 01 September 2009

W.S. RENDRA


Posted by : Haniyah, Jakarta, 9 Agustus 2009.

Rendra dan Karya-karyanya


Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Solo (Surakarta), Jawa Tengah. Ayahnya, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada SMA Katolik Solo. Pak Broto juga seorang dramawan tradisonal. Ibunya, Raden Ayu Catharina Ismadillah, adalah seorang penari serimpi di keratin Surakarta.

Mula-mula ia beragama Katolik dengan nama lengkapnya Willibrordus Surendra Broto seperti juga kedua orang tuanya yang beragama Katolik. Akan tetapi, ketika ia menikah dengan istrinya yang kedua, Sitoresmi Prabuningrat, 12 Agustus 1970 dia pindah ke agama Islam dan namanya hanya Rendra. Istrinya yang pertama ialah Sunarti Suwardi. Ia banyak memberikan inspirasi dalam puisi Rendra. Sunarti dan Sitoresmi, keduanya pemain drama dalam grup teater Rendra. Istri Rendra yang terakhir, Ken Zuraida, juga pemain drama.

Rendra memulai pendidikannya dari Taman Kanak-kanak (1942) sampai dengan SMA (1952) di sekolah Katolik, di Solo. Kemudian ia pergi ke Jakarta dengan maksud sekolah di Akademi Luar Negeri. Sayang sekali, akademi itu telah ditutup. Selanjutnya, ia masuk Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, tetapi dia tidak menyelesaikan pendidikannya. Setelah mendapat sarjana muda kegiatannya lebih banyak dalam bidang seni, seperti tulis-menulis, membaca, bermain drama, dan tari. Pada tahun 1954 ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA) untuk belajar drama dan tari, selesai tahun 1967.

Rendra mulai menulis sajak, mengarang, dan mementaskan drama untuk kegiatan di sekolahnya sejak di bangku SMP kelas II. Tulisannya meliputi berbagai bidang seni, yaitu puisi, cerita pendek, esai, dan drama. Kegiatannya bukan hanya menulis, melainkan juga bermain drama, dan terutama membaca puisi. Ia sangat aktif dalam drama. Dia telah menulis beberapa drama dan menyutradarai karyanya sendiri.

Rendra adalah seorang seniman. Dia memulai pekerjaannya di atas panggung. Tahun 1954 dia diundang Pemerintah Amerika untuk menghadiri seminar tentang kesusasteraan di Universitas Harvard (Harvard University). Pada kesempatan itu ia berkeliling Amerika selama dua bulan. Ketika ia kembali ke Indonesia, tahun 1961, dia membuat grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena dia pergi ke Amerika lagi. Pada tahun 1968 ia kembali dari Amerika dan kemudian ia membentuk kembali grup teater yang dinamai Bengkel Teater. Sampai sekarang Bengkel Teater Rendra sangat terkenal di Indonesia. Bengkel Teater Rendra itu sampai sekarang tetap menjadi basis untuk kegiatan keseniannya. Bengkel Teater itu memberi suasana baru dalam kehidupan teater Indonesia.

Karya-Karya Rendra

1. Kumpulan Puisi

1) Ballada Orang-orang Tercinta (1957)

2) 4 Kumpulan Sajak (1961)

3) Blues untuk Bonnie (1971)

4) Sajak-sajak Sepatu Tua (kumpulan sajak, 1972)

5. Nyanyian Orang Urakan (1985)

6) Potert Pembangunan dalam Puisi (1983)

7) Disebabkan oleh Angin (1993)

8) Orang-orang Rangkasbitung (1993)

2. Drama

1) Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)

2) Selamatan Anak Cucu Sulaiman (1967)

3) Mastodon dan Burung Kondor (1972)

4) Kisah Perjuangan Suku Naga (1975)

5) SEKDA (1977)

6) Panembahan Reso (1986)

3. Kumpulan Cerita Pendek : Ia Sudah Bartualang (1963)

4. Kumpulan Esai : Mempertimbangkan Tradisi (1983)

5. Produksi Teater

1) The Ritual of The Solomon’s Children by Rendra

2) Odipus Rex – Sophocles

3) Waiting for Godot – Samuel Beckett

4) Qasidah Barzanji – Al-Barzanji, scenario by Rendra

5) Hamlet – W. Shakespeare

6) Macbeth – W. Shakespeare

7) The Prince of Homburg – Heirinch von Kleist

8) Mastodon and The Condors – Rendra

9) Antigone – Sophocles

10) Oidipus in Colonus – Sophocles

11) Lysistrata – Aristphanuso

12) The Struggle of the Naga Tribe – Rendra

13) Egmont – Goethe

14) Caucasian Chalk Circle – Bertolt Brecht

15) The Robber – F. Schiller

16) The Governor Secretary – Rendra

17) Lord Reso – Rendra

18) The Diary of a Scoundrell – A. Ostrovsky


Puisi Rendra

Ballada Lelaki yang Luka


Lelaki yang luka

Biarkan ia pergi, Mama!

Akan disatukan dirinya

Dengan angin gunung.

Sempoyongan tubuh kerbau

Menyobek perut sepi.

Dan wajah para bunda

Bagai bulan redup putih.


Ajal! Ajal!

Betapa pulas tidurnya

Di relung pengap dalam!

Siapa akan diserunya?

Siapa leluhurnya?

Lelaki yang luka

Melekat di punggung kuda.


Tiada sumur bagai lukanya.

Tiada dalam bagai pedihnya.

Dan asap belerang

Menyapu kedua mata.


Betapa kan dikenalnya bulan?

Betapa kan bisa menyusu dari awan?

Lelaki yang luka

Tiada tahu kata dan bunga.


Pergilah lelaki yang luka

Tiada berarah, anak dari angin.

Tiada tahu siapa dirinya

Didaki segala gunung tua.

Siapa kan beri akhir padanya?

Menapak kaki-kaki kuda

Menapak atas dada-dada bunda.


Lelaki yang luka

Biarkan ia pergi, Mama!

Meratap di tempat-tempat sepi.

Dan di dada:

Betapa parahnya.


Puisi Rendra, 1992

Doa untuk Anak Cucuku

Bismillaahir rahmaanir rahim.


Ya, Allah

Di dalam masa yang sulit ini,

di dalam ketenangan

yang beku dan tegang,

di dalam kejenuhan

yang bisa meledak menjadi keedanan,

aku merasa ada muslihat

yang tak jelas juntrungannya.

Ya, Allah.

Aku bersujud kepada-Mu.

Lindungilah anak cucuku.


Lindungilah mereka

dari kesabaran

yang menjelma menjadi kelesuan, dari rasa tak berdaya

yang kehilangan cita-cita


Ya, Allah.

Demi ketegasan mengambil risiko

ada bangsa yang dimesin-kan

atau di-zombie-kan.

Ada juga yang di-fosil-kan

atau di-antik-kan.

Uang kertas menjadi topi

bagi kepala yang berisi jerami.

Reaktor nuklir menjadi tempat ibadah

dimana bersujud kepala-kepala hampa

yang disumpal bantal tua.

Kemakmuran lebih dihargai

dari kesejahteraan.

Dan kekuasaan

menggantikan kebenaran.

Ya, Allah.

Lindungilah anak cucuku.


Lindungilah mereka

dari berhala janji-janji,

dari hiburan yang dikeramatkan,

dari iklan yang dimythoskan,

dan dari sikap mata gelap

yang diserap tulang kosong

Ya, Allah

Seorang anak muda

bertanya kepada temnnya :

“Ke mana kita pergi?”

Dan temannya menjawab :

“Ke mana saja

Asal jangan berpikir untuk pulang.”

Daging tidak punya tulang

untuk bertaut.

Angina bertiup

menerbangkan catatan alamat.

Dan rambu-rambu di jalan

sudah dirusak orang.

Ya, Allah

Lindungilah anak cucuku.


Lindungilah mereka

dari kejahatan lelucon

tentang Chernobyl dan Hirosima,

dari heroin

yang diserap lewat ciuman,

dari itikad buruk

yang dibungkus kertas kado,

dan dari ancaman tanpa makna.


Ya, Allah

Kami dengan cemas menunggu

kedatangan burung dara

yang membawa ranting zaitun.

Di kaki bianglala

leluhur kami bersujud dan berdoa.

Isinya persis seperti doaku ini.

Lindungilah anak cucuku.

Lindungilah daya hidup mereka.

Lindungilah daya cipta mereka.

Ya, Allah, satu-satunya Tuhan kami.

Sumber dari hidup kami ini.

Kuasa Yang Tanda Tandingan

Tempat tumpuan dan gantungan.

Tak ada samanya

Di seluruh semesta raya.

Allah! Allah! Allah! Allah!


Sumber :

  1. Sastrawan Indonesia (Rendra), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Rawamangun,Jakarta, 1996.
  2. Ballada Orang-orang Tercinta, Rendra, Pustaka Jaya, 2000.
  3. Kembalikan Indonesia Padaku (Puisi dan Cerpen), Sastrawan Bicara-Siswa Bertanya, Majalah Sastra Horison, 2000.
READ MORE - W.S. RENDRA >

Kamis, 06 Agustus 2009

Anggaran Pendidikan

Wah...Anggaran Depdiknas Terbesar di RAPBN 2010!
Ilustrasi: Menurut Kepala Negara, dengan anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen dari APBN itu diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan guru, meningkatkan mutu pendidikan guna membangun keunggulan dan daya saing bangsa di abad 21.

Senin, 3 Agustus 2009 | 11:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada RAPBN 2010 memperoleh alokasi anggaran terbesar yang mencapai Rp 51,8 triliun.

"Anggaran besar untuk Departemen Pendidikan Nasional tersebut untuk menuntaskan pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, pemerataan, dan perluasan akses pendidikan, serta peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Pidato Pengantar RAPBN 2010 dan Nota Keuangan di depan Rapat Paripurna Luar Biasa DPR-RI, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (3/8).

Pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2010, pemerintah mengalokasikan anggaran belanja untuk seluruh kementerian/lembaga mencapai Rp 327,6 triliun, meningkat Rp 10,6 triliun dibanding RAPBN tahun 2009 lalu.

Menurut Kepala Negara, dengan anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen dari APBN itu diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan guru, meningkatkan mutu pendidikan guna membangun keunggulan dan daya saing bangsa di abad 21.

Diungkapkan oleh Presiden, lembaga lainnya yang juga memperoleh anggaran yang cukup besar yaitu Departemen Pertahanan sebesar Rp 40,7 triliun dan Departemen Pekerjaan Umum Rp 34,3 triliun. Sementara itu, Departemen Agama memperoleh Rp 26,0 triliun, Kepolisian Negara Republik Indonesia sebesar Rp 25,8 triliun, Departemen Kesehatan sebesar Rp 20,8 triliun, dan Departemen Perhubungan sebesar Rp 16,0 triliun.

READ MORE - Anggaran Pendidikan >

Mobil Pintar

Mobil Pintar untuk Anak-anak Daerah Tertinggal
Kamis, 6 Agustus 2009 | 12:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak yang berada di daerah tertinggal, daerah pascakonflik, dan daerah rawan bencana seringkali tidak memiliki akses pada pendidikan. Agar ketertinggalan mereka tak terlalu jauh, dimunculkanlah program mobil pintar. Program mobil pintar merupakan sebuah strategi baru yang digagas oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SKIB) dan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) yang difasilitasi Depdiknas, sebagai media belajar informal dan sarana kegiatan untuk anak-anak yang berada di daerah tertinggal dan tak terjangkau pendidikan.

Untuk mematangkan program tersebut, SIKIB bekerja sama dengan KNIU menggelar workshop Pengembangan Program Mobil Pintar untuk Daerah Tertinggal, Daerah Konflik, dan Daerah Rawan Bencana, di Gedung Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, Kamis (6/8). Workshop dilakukan untuk merumuskan penanganan dan konten pengajaran yang akan diimplementasikan di lapangan. Hadir dalam acara tersebut Ketua KNIU Arief Rahman Hakim, Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Depdiknas, dan Ibu Anton Apriantono serta Ibu Okke Hatta Rajasa dari SIKIB.

Menurut Arif Rahman Hakim, keberadaan program edukasi nonformal berupa mobil pintar ini sangat penting mengingat daerah-daerah tersebut memerlukan penanganan yang berbeda. "Anak-anak di daerah semacam itu memiliki problem psikologis yang cukup berat. Pendidikan secara simultan melalui mobil pintar ini dapat menyelesaikan masalah tersebut," ungkap Arief.

Mengenai pendanaan untuk program ini, menurut Okke Hatta Rajasa, berasal dari program corporate social responsibility (CSR) di berbagai institusi. "Dana CSR itu dari berbagai sumber, bisa dari BUMN, perusahaan swasta, pemda, dan sebagainya," ujar Okke.

Dengan difasilitasi oleh Depdiknas, para tutor untuk program ini juga akan diberikan pelatihan khusus. Okke mengharapkan dengan pelatihan tersebut, tutor tidak hanya mampu memberikan materi ajar dengan baik, tetapi juga memiliki empati terhadap anak-anak korban. "Untuk daerah konflik dan rawan bencana, yang penting adalah bagaimana mereka bisa mengayomi dan mengembalikan kepercayaan diri mereka seperti semula," katanya.

Dalam workshop ini antara lain dilakukan penentuan cakupan pengembangan materi ajar mobil pintar, pengarahan terhadap fasilitator, dan identifikasi terhadap daerah tertinggal, pascakonflik, dan rawan bencana. "Hasilnya nanti dijadikan kerangka acuan dalam aplikasi program mobil pintar," pungkas Okke.

Dalam program ini, sebetulnya tidak hanya berupa mobil pintar. Namun, juga akan dikembangkan motor pintar dan kapal pintar. Kendaraan tersebut juga dipakai mengingat kondisi alam di daerah tertinggal, berkonflik, dan rawan bencana, memiliki kondisi alam yang fluktuatif dan cukup sulit untuk ditembus.

READ MORE - Mobil Pintar >